+6221–3503142 secretariat@cisfed.org

Masjid dan Pasar adalah dua “dunia” yang menjadi bagian tema-tema abadi lain dari prioritas aktivitas setiap Muslim. Tema-tema abadi seperti Keadilan, Anti-Rasisme di seluruh lini, Ketakwaan, Ibadah-ibadah Mahdah, dan lainnya  selalu didengungkan, untuk diresapi dan diaplikasikan secara “kaffah” (menyeluruh, total, holistik) setiap manusia yang mengatakan dirinya Muslim, Orang Islam. Mengapa tema-tema abadi tersebut penting dan bahkan banyak diulang-ulang dalam Qur’an, Hadits maupun Ushwah Rasul? Ya, karena tema-tema abadi itulah ciri khas Islam. Ironisnya, tema-tema abadi itupun sekaligus banyak terlupakan, atau kalau tak terlupakan ya terkalahkan dengan tema-tema duniawi rekaan dan karya-karya kemanusiaan yang lebih menggiurkan, seperti pasar saham, demokrasi, liberalisasi, hak asasi manusia, hak paten, kapital, income, kesetaraan gender, interest/bunga, dll.

Masjid dan Pasar salah satunya yang kadang tidak dibicarakan sepaket, tetapi parsial, bahkan pembicaraan sepaket atau bahasa “kerennya” itu sinergi oposisi biner banyak terlupakan atau terkalahkan oleh pemisahan ekstrim masjid dan pasar, maupun yang hanya sekedar haditsnya dibaca, dihafal, dan diletakkan di diskusi kitab-kitab ibadah mahdah. Padahal, Masjid dan Pasar adalah satu kesatuan yang tak dapat dilepaskan dari konteks di mana Islam berkembang. Bentuk Sinergi Oposisi Biner yang (kadang) terlupakan dan lebih suka dibahas dalam logika oposisi biner. Ketika membahas masjid ya masjid saja, ketika membahas pasar ya pasar saja. Ketika membahas ibadah shalat dan masjid sebagai tempat sujud/shalat tidak lupa membahas bahwa pasar adalah tempat terburuk dan paling dibenci Allah. Tetapi ketika membahas pasar dalam sistem ekonomi Islam, sangat sulit, jarang atau bahkan sering terlupakan bahwa pasar adalah tempat yang paling buruk dan paling dibenci Allah, sedangkan masjid (baik itu makna hakiki maupun majazi) sendiri lepas dari pembahasan ekonomi Islam.

Penulis melihat ada semacam keterlepasan bawah sadar (kalau tidak mau dikatakan sekularisasi berpikir) ketika mendiskusikan pasar dengan memberi porsi minimal bahkan reduksi total atas konsep masjid. Entah memang keterlepasan itu bawah sadar rasionalitas yang telah “in depth” karena kebiasaan ekonom, ahli keuangan atau akuntan membahas ekonomi model “Barat”  yang hanya bersifat orientasi keuntungan, kapital, human orientation, self interest, rasional, empiris, dan urusan dunia saja, sedangkan urusan masjid adalah urusan di rumah, agama pribadi, tidak berhubungan dengan logika ekonomi, bisnis maupun akuntansi di manapun. Kalaupun mau ngomong Ekonomi Islam, ya yang dibicarakan itu yang konkret, rasional, empiris dan terkait langsung dengan logika ekonomi, yaitu riba, just that. Karena pula riba adalah pusat dari permasalahan ekonomi Barat dan dengan demikian urusan masjid, karena tidak berkoneksi langsung dengan uang, ya tidak perlu dibahas.

Penulis melihat keterpisahan masjid dan pasar tidak bisa berlangsung terus menerus. Masjid dan pasar adalah dua tema abadi yang sinergis tak terpisahkan. Lihat saja, Rasulullah ketika membangun Masjid Nabawi di Madinah, setelah itu membangun pasar di dekat Masjid Nabawi. Ketika Umar memasuki kota baru yang telah diislamkan, maka yang dibangun pertama adalah Masjid, baru kemudian Pasar. Berdasarkan kenyataan historis maupun kultural Islam dapat pula penulis katakan tak berlebihan sebuah refleksi kalimat “Di mana ada Pasar, di sana pasti ada Masjid, di mana ada Masjid di sana pasti ada Pasar. Sampai kinipun, misalnya kita ke Masjid Nabawi di Madinah atau bahkan Masjidil Haram di Mekkah, di sekitarnya bertebaran berbagai aktivitas pasar, baik tradisional maupun modern. Tak perlu jauh-jauh, simbol Keraton-keraton dan kota-kota di Nusantara, terutama di Jawa, selalu terdapat simbol-simbol alun-alun sebagai pusat, masjid, pasar atau pusat aktivitas ekonomi, dan keraton atau pusat kekuasaan. Kota-kota dan keraton atau kesultanan Jawa memang sangat dipengaruhi oleh Islam.

Pertanyaan lugu penulis , apakah saat ini kita akan membangun masjid dahulu baru kemudian pasar? Ekonomi kita saat ini selalu membangun Maal terlebih dahulu, dengan lahan dan bangunan yang beribu-ribu meter persegi, sedangkan tempat ibadahnya sepetak, di lantai bawah sempit, dan lagi dibangun setelah dibangun WC terlebih dahulu. Mudahnya, kalau dulu ummat Muslim membangun Masjid besar dan pertama kali, baru kemudian pasar, sekarang manusia modern membangun Pasar besar dan pertama kali, baru kemudian musholla kecil di sebelah WC. Sepertinya memang terjadi pergeseran yang signifikan atas makna Masjid dan Pasar.

Penulis jane mikir meski ini tidak pas juga, apakah Pasar Saham saat ini, atau misalnya Pasar Syariah atau Efek Syariah di negeri ini dibangun dengan logika seperti Maal juga atau seperti logika Rasulullah ketika masuk ke Madinah pertama kali? Bisa saja perdebatan merujuk pada arah “darurat”, Efek Syariah dibangun di bawah IDX di Jakarta. Maka dari itu, daripada mendiskusikan yang sangat “technical and debatable“,  apalagi perdebatan “material terms in Islam“, penulis akan lebih jauh masuk dalam “symbolic terms in Islam“.  Salah satu yang paling penting adalah simbol yang dihadirkan Nabi Muhammad SAW. mengenai sinergi oposisi biner masjid dan pasar lewat hadits-haditsnya.

Abu Hurairah menyampaikan Sabda Rasulullah Muhammad SAW:

hadits masjid dan pasar

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah Masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah Pasar-pasarnya.” (HR Muslim).

Hadits Riwayat Muslim mengenai Masjid dan Pasar merupakan salah satu “icon” pentingnya tema tersebut. Hadits Riwayat Muslim lain, misalnya pada saat terjadi dialog antara Rasulullah Muhammad SAW dan Malaikat Jibril AS. Sang Rasul, Muhammad SAW., di suatu waktu bertanya kepada Malaikat Jibril AS.:”Wahai Jibril, tempat manakah yang disenangi oleh Allah?” Mendengar pertanyaan itu kemudian Jibril AS. menjawab: “Masjid-masjid, dan yang paling disenangi adalah orang yang pertama masuk dan terakhir keluar meninggalkannya.” Sang Rasul, Muhammad SAW kembali bertanya: Tempat manakah yang paling tidak disukai oleh Allah Ta’ala?”  Jibril AS menjawab: “Pasar-pasar dan orang yang paling dahulu memasukinya dan paling akhir meninggalkannya.”

Berdasarkan pemikiran dan makna Ijmal (umum dan logis), dialog antara Muhammad SAW dan Jibril AS di atas menyiratkan dua hal, yaitu Tempat dan Manusia. Pertama, berkenaan dengan tempat paling dicintai Allah adalah Masjid, sedangkan yang paling dibenci Allah adalah Pasar. Kedua, Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang berlama-lama beribadah di Masjid dan mengurangi semaksimal mungkin untuk beraktivitas keduniawian di Pasar. Sebaliknya orang yang dibenci Allah adalah manusia yang berlama-lama di Pasar dan tidak kerasan di Masjid.

Sebenarnya, kita dapat melakukan Tahlilul Lafdzi (analisis kata per kata) maupun Tahlilul Tarkib (analisis gramatikal) atas Hadits tersebut. Penulis mencoba melihat dua padanan atas kata (1) masjid-pasar; dan (2) cinta-benci. Pertama, padanan kata masjid dan pasar dalam Hadits tersebut ditulis dalam bentuk jamak,  masaajidu (masjid-masjid) dan aswaaqu (pasar-pasar).  Kedua, padanan kata cinta-benci ditulis dalam bentuk kaidah isim tafdhil, kata benda yang mempunyai arti sangat/paling/lebih, yaitu ahabbu (paling dicintai) dan abghodu (paling dibenci).

Dua padanan kata masjid-pasar dan cinta-benci itu dirangkai dalam bentuk kalimat masjid yang paling dicintai, sedangkan pasar yang paling dibenci. Setiap masjid yang ada di seluruh pelosok negeri dan bahkan saat ini di seluruh bumi, adalah tempat paling dicintai Allah. Kata cinta yang digunakan dalam hadits bukan cinta sembarangan, tetapi berasal dari runtutan kata yang mengikuti kaidah fi’il madi (kata kerja lampau) – fi’il mudhori (kata kerja saat ini) – masdar (kata benda), yaitu habba – yuhibbu – mahabba. Bahkan penggunaan masdar untuk menunjukkan cinta paling puncak tidak menggunakan kata lain, tetapi menggunakan kata Mahabbatullah atau Cinta kepada Allah.

Jadi, kata cinta paling puncak (ahabbu) dari Allah untuk tempat paling baik di seantero bumi, hanyalah Masjid. Sebaliknya, tempat yang paling dibenci (abghodu) 0leh Allah adalah Pasar. Bahkan, kalimat ahabbu dan abghodu, keduanya merupakan bentuk kata yang berlaku terus menerus tak putus. Artinya, “ahabbul bilaadi  Ilallahi masaajiduhaa” dapat diartikan sebagai tempat-tempat di negeri yang akan selalu dicintai Allah tanpa putus dan tak akan pernah tidak dicintai sampai kapanpun adalah Masjid. Sedangkan “abghodul bilaadi Ilallahi aswaaquhaa” dapat diartikan sebagai tempat-tempat di negeri yang akan selalu dibenci Allah tanpa putus dan tak akan pernah tidak dibenci sampai kapanpun adalah Pasar. Katakanlah Masjid berada di ekstrim ujung yang paling dan selalu dicintai Allah selamanya sedangkan Pasar berada ekstrim ujung lainnya yang  dibenci Allah selamanya yaitu Pasar.

PASAR  —–(ekstrim kebencian)—–  ALLAH  —–(esktrim kecintaan)—–  MASJID

PASAR  —–(benci terus menerus)—–  ALLAH  —–(cinta terus menerus)—–  MASJID

PASAR  —–(benci selamanya)—–  ALLAH  —–(cinta selamanya)—–  MASJID

Mengapa Allah begitu mencintai Masjid, mencintainya terus menerus tanpa jeda dan selamanya? Imam Nawawi menjelaskan, karena masjid merupakan rumah ketaatan dan pondasi dasarnya adalah ketakwaan. Bahkan Imam Qurtubi lebih detil menjelaskan, karena masjid merupakan tempat yang dikhususkan untuk beribadah, berzikir, berkumpulnya orang-orang Mukmin, penampakan simbol-simbol agama, dan hadirnya para Malaikat

Sebaliknya, Mengapa Allah begitu membenci Pasar tanpa henti tanpa jeda terus menerus dan selamanya? Imam Nawawi menjelaskan karena pasar merupakan tempat berbuat kecurangan, tipu daya, riba, sumpah palsu, pengingkaran janji, dan penghalangan dari zikir kepada Allah serta lain sebagainya. Dijlentrehkan lebih jauh oleh Imam Kurtubi, karena pasar merupakan tempat yang khusus untuk mengejar duniawi dan berbagai kesenangan manusia, yang menghalang-halangi mereka dari zikir kepada Allah, dan karena merupakan tempat sumpah palsu, sekaligus menjadi medan pertempuran bagi syaitan, di sana pula syaitan menjunjung tinggi panjinya.

BERSAMBUNG…

Sumber :

https://ajidedim.wordpress.com/2014/02/06/masjid-dan-pasar-sinergi-oposisi-biner-yang-kadang-terlupakan-1/#comment-2530

 

 

Komentar Anda

Share This